Guru Sebagai Konten Kreator: Inovasi Pembelajaran atau Pengalihan Fokus?
1. Argumen Inovasi: Mendekatkan Pendidikan dengan Realitas Siswa
Bagi para pendukungnya, menjadi konten kreator adalah cara guru untuk tetap relevan:
-
Personalisasi dan Aksesibilitas: Konten video memudahkan siswa mengulang materi pelajaran kapan saja dan di mana saja dengan bahasa yang lebih santai dan mudah dicerna.
2. Argumen Pengalihan Fokus: Risiko Komodifikasi Ruang Kelas
Kritik tajam sering kali muncul ketika batasan profesionalisme mulai melonggar:
-
Pelanggaran Privasi Siswa: Banyak konten “lucu” atau “viral” yang melibatkan siswa tanpa izin yang memadai, atau mengeksplorasi kondisi kelas demi mendapatkan interaksi (engagement) yang tinggi.
-
Pergeseran Prioritas: Kekhawatiran bahwa guru lebih fokus pada pencahayaan, penyuntingan video, dan jumlah pengikut dibandingkan dengan persiapan perangkat pembelajaran (RPP) atau penilaian objektif siswa.
-
Haus Validasi Digital: Ada risiko guru terjebak dalam mengejar popularitas, sehingga konten yang dihasilkan lebih menonjolkan “sosok guru” daripada “substansi ilmu”.
Menetapkan Kode Etik: Konten Kreator yang Profesional
Agar aktivitas digital guru tetap berada di jalur pendidikan, diperlukan batasan yang jelas melalui penerapan Digital Professionalism:
A. Integritas dan Privasi
Siswa bukanlah properti konten. Guru harus memastikan bahwa setiap konten yang melibatkan siswa telah mendapatkan persetujuan dan tetap menjaga martabat siswa tersebut. Wajah atau identitas siswa sebaiknya disamarkan jika konten tersebut bersifat publik luas.
B. Substansi Lebih Utama dari Estetika
C. Manajemen Waktu yang Ketat
Aktivitas pembuatan konten sebaiknya dilakukan di luar jam mengajar atau diintegrasikan sebagai bagian dari penugasan yang terstruktur. Sekolah perlu memiliki kebijakan internal yang mengatur penggunaan gawai untuk keperluan konten di lingkungan pendidikan.